Dugaan Korupsi Masjid Al Fauz Menggelinding Bak Bola Liar

Kamis, 12 Januari 2017 | 15:26
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Bahrullah Akbar

INDOPOS.CO.ID - Dugaan korupsi pembangunan Masjid Al Fauz, Jakarta Pusat, menggelinding bak bola liar. Bagaimana tidak, sampai saat ini sudah sekitar 20 orang termasuk Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah yang diperiksa, terkait proyek yang menelan anggaran Rp 27 miliar pada APBD 2010 tersebut. Bahkan, mantan Walikota Jakarta Pusat yang kini menjadi calon wakil gubernur Sylviana Murni, santer disebut sebagai pejabat yang ikut bertanggungjawab dalam proyek itu.

Kepada wartawan, Sekda Saefulah, mengaku telah diundang sebagai saksi oleh Bareskrim Mabes Polri.  Ia pun menjelaskan kronologi pembangunan Masjid Al Fauz kepada wartawan.

"Itu (pembangunan Masjid Al Fauz) kan kegiatannya tahun anggaran 2010-2011. Nah, perencanaannya sudah ada dari tahun 2004," kata Saefullah, kemarin.

Kemudian, pemasangan tiang pancang pertama dilakukan saat Wali Kota Jakarta Pusat dijabat oleh Muhayat. Selanjutnya, pembangunan Masjid Al Fauz mulai dianggarkan saat Wali Kota Jakarta Pusat dijabat oleh Sylviana Murni. Lalu, perencanaan dilakukan, demikian halnya dengan lelang pelaksanaan proyek, hingga pembangunan.

"Namun, saat tanda tangan kontrak (pembangunan Masjid Al Fauz dengan kontraktor), Bu Sylvi sedang Lemhannas (diklat) sehingga yang tanda tangan kontrak (dengan kontraktor) itu Pelaksana Harian Wali Kota Jakarta Pusat, waktu itu jadi Wakil Wali Kota Jakarta Pusat, Pak Rospen Sitinjak," kata Saefullah.

Pembangunan dimulai pada 3 Juni 2010 dengan kontrak pertama sebesar Rp 27 miliar pada APBD 2010. Pembangunan terus berjalan hingga Rospen dimutasi menjadi Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika.

Selanjutnya, Wakil Wali Kota Jakarta Pusat dijabat Fatahillah, dan ia meneruskan tagihan pertama. Saefullah kemudian menjabat Wali Kota Jakarta Pusat menggantikan Sylviana pada 4 November 2010.

"Tagihan kedua, ketiga, dan keempat, saya yang mengetahuinya," kata Saefullah.

Saefulah menjelaskan, wali kota berperan sebagai pengguna anggaran. Wali kota kemudian mendelegasikan penggunaan anggaran kepada kuasa pengguna anggaran atau Kepala Bagian (Kabag) Umum Pemkot Jakarta Pusat. Selanjutnya, ada pula yang bertindak sebagai pelaksana.

Pembangunan Masjid Al Fauz selesai kontrak pada tahun 2010. Saat itu, bangunan sudah berdiri, tetapi belum rampung dan belum dapat digunakan.

Selanjutnya, pada APBD tahun 2011, pembangunan Masjid Al Fauz dianggarkan sebesar Rp 5,6 miliar. Saefullah mengaku, dirinya tak ikut mengusulkan besaran anggaran. Sebab, ia baru menjabat Wali Kota Jakarta Pusat pada November 2010.

Pada akhirnya, pembangunan Masjid Al Fauz rampung pada tahun 2011. Masjid itu diresmikan pada 30 Januari 2011 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Fauzi Bowo.

Sebelum dipergunakan, Masjid Al Fauz diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Setelah diaudit, ternyata ada kelebihan anggaran pada tahun 2011.

Dari total anggaran Rp 5,6 miliar, ada kelebihan anggaran sebesar Rp 108 juta. Saefullah mengaku sudah mengembalikan kelebihan anggaran itu ke kas daerah.

"Dibalikin (kelebihan anggaran) tahun 2011 juga, sesuai hasil audit," kata Saefullah.

Menurut Saefullah, kelebihan anggaran dalam proyek fisik adalah hal yang lumrah. Dia menyebut, kelebihan anggaran pasti terjadi di semua proyek fisik, baik yang didanai oleh APBD maupun APBN. Yang terpenting, kelebihan anggaran dikembalikan lagi kepada negara.

Lebih jauh, penyelidik Bareskrim Mabes Polri mencium dugaan tindak pidana korupsi pada pembangunan Masjid Al Fauz. Rabu kemarin, Saefullah dipanggil dan memenuhi panggilan penyelidik Bareskrim Polri. Ia mengaku kaget terhadap pemanggilan tersebut. Surat pemanggilan baru diterimanya pada Selasa (10/1/2017) malam.

"Dikasih tahu begitu, ya saya kaget," jelasnya.

Kendati demikian, dia meyakini tak melakukan penyelewengan anggaran dalam kegiatan ini. Saefullah mengaku diminta datang pukul 09.00 WIB. Dia mengaku tiba pukul 08.30 WIB dan dicecar dengan 12 pertanyaan oleh penyelidik. Pemeriksaan berlangsung selama sekitar 4 jam, mulai dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Pada sisi lain, Pemkot Jakarta Pusat di bawah kepemimpinan Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede berjanji akan membantu polisi, baik dalam hal menyerahkan data maupun pemeriksaan fisik bangunan masjid.

Pada Rabu lalu, penyelidik memeriksa kondisi fisik Masjid Al Fauz. Namun, mereka belum mau memberikan banyak keterangan. Sudah ada 20 orang yang diperiksa terkait dugaan korupsi pembangunan masjid tersebut.

Sementara itu, juru bicara pasangan calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni, Rachlan Nashidik, mempertanyakan langkah Bareskrim yang mempermasalahkan pembangunan Masjid Al Fauz. Melalui akun twitternya, @ranabaja Rachlan menulis 

"6 tahun lalu, baru kini diusut. Bila bisa menunggu 6 tahun, kenapa tak bisa menunggu sampai Pilkada DKI selesai?"

"Saya tak sungguh minta kasus ditunda hingga selesai pilkada, Hok! Cuma menekankan, kasus 6 tahun lalu itu dimunculkan menjelang pilkada," tulisnya. (wok)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%