Lestarikan Budaya, Yuk ke Museum

Sabtu, 12 Agustus 2017 | 22:37
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
BELAJAR BUDAYA: Tampak sekelompok pemuda-pemudi dari Asean berkunjung ke Museum Wayang, Jakarta. Foto: dewi maryani/indopos
INDOPOS.CO.ID-Indonesia kaya akan sejarah. Salah satunya mengenai budaya Panji. Nah, ingin mengenalkan kembali budaya panji kepada generasi muda, tak hanya anak muda Indonesia tapi juga Asia, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, menampilkan Budaya Panji dalam rangkaian The 4th ASEAN Literary Festival (ALF) atau Festival Sastra ASEAN IV yang diadakan di Kota Tua, tepatnya di Museum Wayang, Jakarta, belum lama ini.
 
''Budaya Panji ini menjadi menarik, karena tidak hanya ada di Indonesia, cerita Panji ini ada di semua negara di ASEAN dengan pengarang dan versi yang berbeda,'' kata inisiator ALF Okky Madasari.
 
Menariknya, ini terlihat dalam acara seminar sastra kebanyakan pesertanya berasal dari kalangan pelajar sekolah menangah atas dan mahasiswa. Mereka dari Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Para pelajar sangat antuasias mendengarkan pembicara hingga diskusi usai.
 
Seminar menghadirkan pembicara Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, Prof. Roger Tol dari Universitas Leiden Belanda, Prof.Dr. Nooriah Mohamed dari University Sains Islam Malaysia, Prof. Dr. I Made Bandem, seniman akademisi Bali, Dwi Cahyono, pendiri Museum Panji Malang.  
 
Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid menambahkan, seminar ini membicarakan kemungkinan mengembangkan Panji kebudayaan ini di tingkat nasional dan internasional itu seperti apa. Bagaimana memperkenalkan ceritanya kembali, dan memperkenalkan sosok-sosoknya.
 
''Kita sudah punya ide dengan aplikasi digital yang akan kita jalankan. Seperti Wayang Beber. Ada cerita anak SMP yang menyadur cerita lama dengan rasa kekinian, itu yang kita harapkan. Anak-anak muda menjadikan Panji sebagai bagian menyusun menyadur pengembangan ceritanya dengan apa yang dirasakan sekarang, kekinian,'' tandasnya.
 
Keunikan dan kepopuleran Panji menjadi inspirasi munculnya bentuk seni lain seperti tari, wayang, topeng, maupun seni rupa. Akan tetapi kisah Panji sudah mulai dilupakan orang seiring dengan perkembangan zaman. ''Oleh karena itu sangat baik untuk mengangkat kisah ini sebagai upaya untuk membangkitkan kembali sekaligus merevitalisasi budaya Panji,'' tukasnya.
 
Pengamat Budaya Prof Wardiman Djojonegoro mengatakan cerita Panji yang merupakan kearifan lokal dari Jawa Timur memiliki dampak budaya yang besar tidak hanya di luar Jawa tetapi juga di negara-negara ASEAN. Cerita Panji mulai timbul dari Kediri pada 1276, pada saat itu cerita Panji menjadi populer dan menyebar ke Nusantara seperti Bali, Lombok, Sulawesi Tengah, Kalimantan dan Palembang.
 
''Sekitar abad 19, cerita ini pun menyebar hingga ke negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Kamboja,'' kata mantan menteri pendidikan itu.
 
Setiap penulis dari daerah lain mengikuti fantasinya sendiri dan mempergunakan bahsa adat istiadat lokal, maka tak heran pada daerah atau negara lain cerita Panji ini berganti nama, seperti Hikayat di Malaysia, Eyano di Kamboja dan Inau di Thailand.
 
Menurut Wardiman, cerita cinta antara Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji yang tidak disetujui orang tua dan menyebabkan keduanya berkelana ini, menjadi cerita favorit bagi masayrakat. Cerita Panji pun, dengan mudah diadaptasi menjadi bentuk kesenian lain seperti tari, topeng, film dan sebagainya. ''Masyarakat di Asia Tenggara sangat menggemari tari Panji yang berkembang di wilayahnya,'' imbuhnya.
 
Cerita Panji ini dianggap mewakili puncak genius kreativitas manusia dan mempunyai arti budaya yang tinggi. Perpustakaan Nasional bersama dengan Malaysia, Kamboja, dan Leiden Universitet telah mendaftarkan naskah Panji sebagai Ingatan Kolektif Dunia untuk kategori naskah kuno di UNESCO yang hasilnya akan diketahui Oktober 2017. (dew)
 
 
 
Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
100%
Takut
Takut
0%