TPST Bantar Gebang Merugikan DKI

Harus Bayar Ratusan Miliar Setiap Tahun

Selasa, 12 September 2017 | 10:13
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
TPST Bantar Gebang.

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta harus membayar Rp 170 miliar setiap tahun. Uang sebanyak itu digunakan untuk tipping fee dan bantuan bagi masyarakat sekitar TPST Bantar Gebang.

Kondisi ini dinilai merugikan, mengingat pengelolaannya tidak memenuhi standar. "Kami kira pemprov melakukan pemborosan dengan membayar uang sebanyak itu untuk Bantar Gebang," ujar Agus Taufiqurahman, ketua Lembaga Kontrol Korupsi (LKK), Senin (11/9).

Pengelolaan oleh pihak swasta, sambung Taufiqurrahman, baik Pemprov DKI Jakarta maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi sama-sama dirugikan. Sebab hingga saat ini, pengelolaannya tidak memenuhi standar. "Sebenarnya dua pemerintahan daerah, yakni Pemprov DKI dan Pemkab Bekasi sama-sama dirugikan. Sebab pengelolaan tidak sesuai kriteria," kata dia.

Seharusnya, sampah yang dibuang ke Bantar Gebang bisa diolah kembali menjadi energi listrik dan kemudian listriknya dijual guna memenuhi kebutuhan pembayaran tipping fee.

Dengan begitu, pembayaran itu tidak akan membebani Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). "Sayangnya hal itu tidak berjalan sehingga APBD DKI selalu terbebani setiap tahunnya. Pada sisi lain, sampah yang terangkut juga tidak maksimal," ucap dia.

Agus mendesak adanya evaluasi dalam hal pengelolaan sampah di Bantar Gebang ini. "Jangan terus membiarkan Jakarta dirugikan," terang dia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan, pembuangan dan pengolahan sampah di Jakarta tidak bisa lagi bergantung pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi.

Jakarta harus memiliki intermediate treatment facility (ITF) atau tempat pengelolaan sampah ramah lingkungan sendiri. "(Sampah) Jakarta tidak lagi bisa bergantung pada Bantar Gebang. Walaupun itu aset DKI, tetapi keberadaannya di luar kota Jakarta," tutur Isnawa.

Isnawa menyampaikan, distribusi pembuangan sampah di Jakarta akan terhambat jika ada masalah yang muncul dalam perjalanan menuju TPST Bantar Gebang. "Kalau ada kejadian penghadangan, masalah lain-lain, tentunya Jakarta sangat rentan terhadap distribusi pembuangan sampah kami," kata dia.

Meskipun begitu, Isnawa belum memastikan waktu pembangunan ITF di Jakarta dimulai. Selain dengan membangun ITF, Dinas Lingkungan Hidup terus menggerakkan pengelolaan sampah secara mikro melalui program bank sampah.

Kini, ada 480-an bank sampah di Jakarta. Ke depan, setiap RW di Jakarta ditargetkan memiliki satu bank sampah. "Tujuannya meminimalkan volume sampah sehingga tidak harus semuanya dibuang ke Bantargebang, mengedukasi warga untuk peduli terhadap sampahnya," ucap Isnawa.

Warga diedukasi untuk memilah sampah rumah tangga mereka. Sampah yang memiliki nilai ekonomis kemudian disimpan di bank sampah dan akan didaur ulang. Dengan demikian, kelompok warga memiliki kas untuk kebutuhan lingkungan mereka. "Contohnya rusun di Pulogebang, itu bank sampahnya sudah jalan dan mulai punya kas di level jutaan rupiah," tandas dia.

Pada tahun lalu, Ketua Budget Metropolitan Watch (BMW) Amir Hamzah mengungkapkan bahwa sistem penimbangan sampah di TPST Bantar Gebang berpotensi merugikan daerah hingga Rp 20 miliar per tahun. Dari sebanyak 6.900 ton sampah yang masuk ke Bantar Gebang dan ditimbang setiap harinya, petugas hanya mencatat 6.400 ton.

Sementara sisanya sebanyak 500 ton sampah tidak dicatat oleh penimbang, sehingga patut diduga telah terjadi korupsi oleh oknum petugas. Menurut dia, pemprov mengeluarkan tipping fee (biaya yang dikeluarkan anggaran pemerintah kepada pengelola sampah), sebesar Rp 133.328 per satu ton sampah.

Apabila dari 6.900 ton sampah yang masuk, oknum petugas hanya mencatat 6.400 ton sampah, maka sisanya sebanyak 500 ton tidak tercatat. Berarti, potensi kerugian adalah Rp 133.,328 X 500 ton, yakni sekitar 65 juta per hari, atau Rp 1,8 miliar per bulan atau Rp 20 miliar per tahun dari tipping fee. (wok)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%