Kasus Bayi Debora, Djarot Sibuk Cari Tahu

Layanan Kesehatan Warga Kurang Mampu Butuh Perbaikan

Selasa, 12 September 2017 | 12:25
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Foto: istimewa

INDOPOS.CO.ID - Nasib tragis Tiara Debora, bayi mungil putri kelima pasangan Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang, warga Jalan Jaung, Benda, Tangerang membuktikan masih adanya masalah dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu.

Kepesertaan orang tua Debora dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, ternyata tidak mampu menyelamatkan nyawa sang putri tercinta. Untuk itu, sejumlah pihak mendesak adanya evaluasi dalam sistem pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat kurang mampu.

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengaku, sudah meminta pihak RS Mitra Kalideres, Jakarta Barat untuk menjelaskan peristiwa meninggalnya bayi Debora yang tak mendapatkan pelayanan dari RS. "Oleh sebab itu, saya minta supaya direksi rumah sakitnya diundang untuk menekankan ini (peristiwa kematian Debora)," kata Djarot.

Selain itu, Djarot pun belum mengetahui secara detail peristiwa kematian Debora lantaran belum mendapatkan laporan lengkap. "Makanya saya belum mendapatkan laporan lengkap karena hari ini atau besok akan dipanggil oleh Dinkes," ucap dia.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengonfirmasi soal kematian bayi Debora ke RS Mitra Keluarga. Pertemuan itu rencananya dihadiri pihak Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan BPJS Kesehatan. "Kita bersama-sama Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, IDI, dan PERSI, akan bertemu dengan pihak RS Mitra Keluarga," kata Koesmedi.

Oleh karena itu, dia belum mau menanggapi lebih dalam, soal kasus kematian bayi Tiara Debora Simanjorang (4 bulan), buah hati dari Henny Silalahi. Bayi Debora diduga meninggal karena mengalami keterlambatan penanganan medis dari RS Mitra Keluarga, Kalideres, Jakarta Barat.

Namun, dia menegaskan, rumah sakit harus segera memberikan pertolongan kepada pasien yang dalam keadaan darurat. "Yang jelas dalam segala kondisi darurat, pihak rumah sakit harus segera memberikan pertolongan dalam keadaan darurat," tegas Koesmedi.

Koesmedi menjelaskan dalam kondisi darurat atau emergency seperti yang dialamui bayi Debora, setiap rumah sakit memang harus memiliki prosedur penanganan pasien. "Jadi gini dalam kondisi emergency ada beberapa tahap. Yang pertama adalah pertolongan pertama terhadap kegawatdaruratannya. Kalau berhasil ya mungkin pasien bisa dirawat di ruang biasa," kata Koesmedi.

Namun, jika pertolongan pertama pasien tidak berhasil, maka akan ada prosedur khusus dari pihak rumah sakit yang harus disetujui pasien atau keluarga pasien. "Yang kedua kalau (pertolongan pertama) tidak berhasil dan membutuhkan alat batuan misal ventilator ICU untuk mengontrol pernapasannya, maka yang bersangkutan harus dirawat entah itu di NICU, PICU atau ICU. Karena perawatan itu membutuhkan biaya banyak dan dia (RS Mitra Keluarga) tidak/belum bekerja sama dengan BPJS, maka itu RS minta jaminan," tandas Koesmedi. (wok)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%